Sanggahan Terhadap Apologis Muslim Mengenai Usia Aisha

From WikiIslam, the online resource on Islam
Revision as of 07:41, 23 October 2013 by Yakuzakazuya (talk | contribs)
Jump to navigation Jump to search

Artikel ini menganalisa apolegetika muslim jaman sekarang yang berusaha mengaburkan usia Aisha sesungguhnya saat dirinya dinikahi Muhamad.

Daftar Isi

1 Pendahuluan

1.1 Tujuan
1.2 Sejarah

2 Argumen

2.1 Argumen Pertama
2.2 Argumen Kedua
2.3 Argumen Ketiga
2.4 Argumen Keempat 
2.5 Argumen Kelima
2.6 Argumen Keenam
2.7 Argumen Ketujuh
2.8 Argumen Kedelapan
2.9 Argumen Kesembilan
2.10 Argumen Kesepuluh
2.11 Argumen Kesebelas
2.12 Argumen Keduabelas
2.13 Argumen Ketigabelas

3 Kesimpulan

4 Lihat Juga

5 Link Luar

6 Terima Kasih

7 Referensi


Pendahuluan


Beberapa apologis muslim baru-baru ini mengatakan bahwa Aisha berusia lebih dari sembilan tahun kalender bulan di saat hubungan suami-isteri pertamanya dengan nabi Muhamad. Mereka mencoba menjelaskan bahwa usia Aisha saat itu bukan sembilan tahun seperti yang tercatat dalam hadist sahih maupun dari pengakuan Aisha sendiri, melainkan berusia berbeda dengan didasari kepada penyalahgunaan kutipan, sumber yang tidak langsung, metode penanggalan yang tidak akurat, dan hinaan. Teknik penelitian asal-asalan ini menimbulkan dugaan umur yang saling bentrok mengenai usia Aisha saat dirinya berhubungan suami-isteri pertama kali, yaitu 12, 14, 15, 17, 18, dan 21 tahun. Artikel ini menganalisa setiap argumen yang disodorkan oleh para apologis tersebut, dan menyediakan informasi tambahan mengenai asal muasal dan latar belakang dari argumen-argumen apologetika "Aisha berumur lebih tua", dan apa sebenarnya satu-satunya tujuan logis dari argumen-argumen tersebut.

Tujuan

Argumen-argumen yang dilontarkan oleh para apologis muslim memberikan kesan yang keliru seakan-akan masalah usia nikah Aisha merupakan perdebatan yang sudah berlangsung lama dalam Islam, dan bahwa argumen-argumen tersebut valid atas penafsiran yang nantinya bisa membawa reformasi di dalam Islam umumnya. Jelasnya tidak demikian. Tidak ada yang bisa diperdebatkan soal penafsiran. Ayat teks jelas-jelas mengatakan satu hal, dan hanya satu hal. Bagi mereka yang benar-benar telah membaca sumbernya, adalah tidak jujur untuk mengatakan sebaliknya. Berbohong mengenai apa yang dikatakan oleh sumber asli mungkin bisa efektif sebagai apologetika, tapi tidak ada gunanya apabila tujuannya adalah untuk mereformasi agama. Tidak ada satu pun ahli Islam sungguhan, seorang yang diterima di dunia muslim dan yang oleh umat muslim kebanyakan dianggap mewakili keyakinan mereka, yang mau mendukung argumen-argumen ini. Karena itu, satu-satunya tujuan mereka adalah untuk mengalihkan kritik-kritik valid terhadap suatu keyakinan yang terus-menerus menyebabkan jutaan gadis-gadis kecil dipaksakan ke dalam pernikahan pedofilia anak-anak oleh individu-individu, dan bahkan oleh negara-negara, di mana kesemuanya membenarkan tindakan tersebut dengan secara gamblang mengambil contoh hubungan suami-isteri antara Aisha dengan Muhamad.